<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d6911493868534090098\x26blogName\x3dAku+Pelukis\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://megateusofe.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://megateusofe.blogspot.com/\x26vt\x3d-3355259866565760309', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Batavia

Seorang diri menaiki teksi dari apartment.Ini kali pertama,aku menjelajah jakarta seorang diri.Walaupun sudah berapa kali ke kota mega ini.Tapi ianya masih sebuah daerah yang terlalu asing.Ini cubaan kali pertama untuk aku belajar berdikari.Selama ini,jika bercuti ke tanah indonesia.Aku selalu ambik mudah dengan semua perkara.Malah sehingga kini,aku masih lalai dalam memahami nilai matawang rupiah.Selepas 3 tahun berturut-turut bercuti ke sini.Baru aku faham yang 100,000 rp bersamaan 30 ringgit.Ahhh memang sebuah sumpahan menjadi anak seni~aku memang tak akan pernah bijak dalam menguasai ilmu hisap.

Dengan hanya Berpandukan kepada sekeping peta digital.Akhirnya aku berjaya sampai ke laman usang Kota Batavia.Ahh sebuah mimpi zaman muda sudah terlahir jadi nyata.Selama ini,aku cuma membaca tentang kota ini.Dari balik muka surat buku sejarah lama.Dan hari ini,aku cuma mahu memahami ia dengan sedikit lebih.Di dalam ribut dan hingar-bingar Sang Para Pelibur.Yang berpusu-pusu bersesak merentas puing-puing tinggalan Penjajah Belanda.Aku cuma berjalan lembab dan sepi.Diantara puluhan bangunan-bangunan lama.Merenung setiap inci pada seni rupa dan indah bina yang makin derai.

Kota ini makin berupa berai dan retak.Terjaga tapi semakin tertinggal.

Sayang...kehebatan bandar pelabuhan ini,sudah lama terhakis.Batavia seolah tenggelam dalam mimpi-mimpi terbiar.Melihat anak-anak sekolah,yang berlarian di sepanjang lorong.Bagai sebuah kenyataan ironi.Dunia membawa nafas baru dan semangat muda.Tapi kota ini,tertinggal jauh dibelai rasa tua-lemah dan tenat.

Dan ini buatkan aku terfikirkan satu persoalan.

Apakah Jakarta mampu membangun tanpa berdiri di atas 'Batavia' yang ter'ranap ?.

“Batavia”